Mendekati Alquran
Senin, 22 Juli 2013, 06:12 WIB
Sejumlah umat Muslim belajar tahsin Alquran, di Masjid Agung Al
Azhar, Jakarta Selatan, Rabu (10/7). (Republika/Adhi Wicaksono)
REPUBLIKA.CO.ID, Oleh
Ustaz Arifin Ilham
Ramadhan,
bulan berlimpah kebaikan dan keberkahan. Bulan untuk kita ketam pahala
dan anugerah-Nya. Tidak ada yang terlewati dari bulan suci ini kecuali
semuanya merasakan kedamaian, ketenangan, dan kebahagiaan.
Di antara amalan yang akan mengundang kebaikan dan berpahala besar
adalah mendekati dan membaca Alquran. Atau, istilah yang lazim kita
dengar dan akrab pada bulan Ramadhan adalah tadarus Alquran. Inilah
amalan yang tersirat dalam Alquran sebagai amalan yang mengundang
keberkahan dan sekaligus mendesain Ramadhan kita menjadi terbaik.
“(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang
di dalamnya diturunkan (permulaan) Alquran sebagai petunjuk bagi
manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda
(antara yang hak dan yang batil). Karena itu, barang siapa di antara
kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu maka hendaklah ia
berpuasa pada bulan itu, dan barang siapa sakit atau dalam perjalanan
(lalu ia berbuka) maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang
ditinggalkannya itu pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki
kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah
kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas
petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.” (QS
al-Baqarah [2]: 185).
Mendekati Alquran berarti membaca,
merenungkan, menelaah, dan memahami wahyu-wahyu-Nya. Pada bulan inilah
Alquran menemukan momentumnya. Syiarnya sangat berasa dan khas.
Di hampir pengeras-pengeras suara mushala atau masjid di negeri ini,
Alquran didengungkan. Orang tua, ibu-ibu, bapak-bapak, remaja, dan
anak-anak berhimpun bersama, memandangi mushaf, membaca, mempelajari,
dan mengkajinya.
Tidak perlu merasa aneh karena aktivitas
tadarus Alquran memang sudah melegenda dan turun temurun. Pada bulan
inilah, Malaikat Jibril turun ke planet bumi untuk menyimak bacaan
Alquran Rasulullah. Usman bin Affan biasa mengkhatamkan Alquran setiap
hari sekali.
Imam Syafii mengkhatamkan Alquran sebanyak enam
puluh kali. Al-Aswad setiap dua hari sekali, Qatadah setiap tiga hari
sekali atau pada tiap malam pada 10 malam akhir bulan Ramadhan.
Subhanallah.
Terkait larangan Nabi Muhammad SAW mengkhatamkan
Alquran kurang dari tiga hari, Al-Hafidz Ibnu Rajab al-Hambali berkata,
itu berlaku di luar Ramadhan. Sementara, pada bulan Ramadhan, apalagi
pada 10 akhir Ramadhan, justru menjadi amalan utama.
Alquran
disebut sebagai ma`dubatullah (hidangan Allah SWT), sebagaimana sabda
Rasulullah SAW, “Sesungguhnya, Alquran ini adalah hidangan Allah maka
kalian terimalah hidangan-Nya itu semampu kalian.” (HR Hakim).
Sungguh, Alquran merupakan suatu hidangan yang tidak pernah membosankan.
Semakin dinikmati, semakin bertambah pula kenikmatannya. Oleh karena
itu, setiap orang yang mempercayai Alquran akan semakin bertambah cinta
kepadanya, cinta untuk mendekati dan membacanya, mempelajarinya,
menghafalkannya, memahaminya, mengamalkannya, dan mengajarkannya.
Ini Rahasia Keistimewaan Ibadah Shalat
Rabu, 03 April 2013, 13:11 WIB
Setelah 90 tahun, shalat kembali dilakukan di Masjid Yeni di Thessaloniki, Yunani (Ilustrasi)
REPUBLIKA.CO.ID, Oleh Bahri Baidhawi
Suatu
ketika Abdullah bin Mas'ud bertanya pada Rasulullah shallahu 'alaihi
wasallam, "Wahai Rasulullah pekerjaan apa yang paling Allah cintai?"
Beliau menjawab, "Shalat pada waktunya".
Ia bertanya, "Lalu apalagi ya Rasul?"
Beliau menjawab, "Taat kepada orang tua."
Ia bertanya: "Lalu apalagi Ya Rasul?"
Beliau menjawab: "Jihad di jalan Allah."
Hadis
di atas diriwayatkan lebih dari satu imam, sebut saja Bukhari, Muslim,
Tirmidzi, Nasa'i, Ahmad, Dârul Quthni dan yang lainnya.
Hadis
ini cukup menarik perhatian kita, selain perawinya yang banyak,
kandungan hadis di atas pun layak untuk dicermati. Mengapa shalat tepat
pada waktunya dapat menempati rating teratas dari sekian banyak
pekerjaan yang sangat Allah cintai?
Ternyata shalat tepat waktu
dapat "menyisihkan" ketaatan pada orang tua dan jihad di jalan Allah.
Padahal, sebagaimana yang kita ketahui bersama bahwa perintah untuk taat
pada orang tua adalah perintah yang sangat penting, terbukti hampir
dalam setiap larangan menyekutukan Tuhan (syirik) selalu disandingkan
dengan perintah untuk menaati orang tua. Belum lagi dengan Jihad.
Ternyata
"shalat tepat pada waktunya" dapat mengungguli sebuah amalan yang
balasannya sudah dijanjikan Allah berupa surga dan selalu menjadi idaman
seluruh Muslim.
Menurut Prof Musthafa 'Imarah, Dosen Hadis dan Ilmu
Hadis Fakultas Ushuludin Univeristas Al-Azhar, Kairo, Rasulullah
shalallahu 'alaihi wasallam memang tidak hanya sekali ditanya tentang
pekerjaan yang paling dicintai Allah.
Jawaban Beliau pun
variatif disesuaikan dengan orang yang bertanya dan kondisi saat itu.
Walau demikian, hadis shalat pada awal waktu adalah hadis terbanyak yang
terdapat dalam kitab-kitab hadist dibanding dengan hadis-hadis lain.
Kenyataan
ini cukup menarik hingga Ibnu Hajar dalam "Fathul Bari"-nya menukil
perkataan Ibnu Bazizah bahwa jihad memang didahulukan dibanding
pekerjaan fisik yang lain karena ia merupakan pekerjaan yang berat, akan
tetapi kesabaran untuk menjaga shalat dan melaksanakannya "tepat waktu"
adalah pekerjaan yang terus dilakukan secara berulang-ulang hingga
hanya orang yang benar-benar bertakwalah yang dapat terus menjaganya.
Dr
Abdul Fattah Abu Ghuddah menyimpulkan bahwa dalam hadis tersebutlah
terdapat kunci kesuksesan Umat Islam, yaitu dengan "memanfaatkan waktu".
Beliau berargumen karena shalat termasuk ibadah yang sudah ditentukan
waktunya.
Jika seorang Muslim melaksanakannya tepat waktu, dan
juga selalu memperhatikan setiap pekerjaan pada waktunya, maka hal itu
akan membuat semua janji dan pekerjaan yang ada di dunianya dapat mudah
terlaksana dengan baik sebagaimana mestinya. Karena telah menjadi pola
kebiasaan dan watak dalam prilaku serta kehidupan seorang Muslim.
Dari sinilah terlihat jelas rahasia mengapa syariat mengistimewakan ibadah shalat dibanding seluruh ibadah lain.
Selain
shalat sebenarnya syariat pun telah menggambarkan beberapa pekerjaan
yang harus sesuai dengan waktu yang telah ditentukan. Seperti haji,
zakat (baik zakat fitr atau zakat mâl), puasa, berkurban, memberi
nafkah, utang, gadai, bertamu, haid, nifas dan lain-lain.
Dari
sini Islam ingin mengisyaratkan akan pentingnya penentuan waktu dan
banyaknya kemaslahatan dan manfaat yang ada di dalamnya.
Mudah-mudahan kita selalu dijadikan orang-orang yang selalu menjaga shalat dan menjadi hamba yang "on time".
Allahu wa Rasuluhu a'lam.